Mimpi Buruk Pertanian: Masanobu Fukuoka dan Pikiran yang Alami
Sebuah wawancara dengan Larry Korn
NATURAL WORLD
Adam
3/25/20266 min baca
Mimpi Buruk Pertanian
"Ini hanya jangka pendek — saya menyebutnya mimpi buruk pertanian. Ini terjadi di era 30-an, tahun 1930-an. Waktu itu ilmu pengetahuan dan teknologi seolah-olah akan membawa kelimpahan dan kemudahan baru bagi dunia. Dan siapa yang mau kembali ke belakang?"
Di tahun 1930-an, dunia sedang terlena oleh janji kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semuanya terasa mungkin, kelimpahan terasa tinggal selangkah lagi, dan mempertanyakan pertanian industri akan dianggap gila — atau paling tidak, ketinggalan zaman. Tapi justru di situlah Masanobu Fukuoka mulai melihat sesuatu yang menurutnya sangat keliru.


Pengantar
Masanobu Fukuoka adalah seorang petani, filsuf, dan penulis asal Jepang yang pandangannya tentang pertanian dan kehidupan mengguncang fondasi peradaban modern. Wawancara ini dilakukan oleh Larry Korn — murid Fukuoka selama bertahun-tahun sekaligus penerjemah karya besarnya, The One-Straw Revolution, ke dalam bahasa Inggris. Lewat wawancara ini, kita diajak masuk ke dalam filosofi yang mendasari pertanian alami. Kata-kata Larry dipertahankan apa adanya, hanya ditambahkan sedikit konteks di beberapa bagian agar lebih mudah dipahami.
Tumbuh Bersama Alam
Fukuoka besar di sebuah pertanian di pulau Shikoku, Jepang. Sejak kecil, ia memperhatikan sesuatu yang luput dari pandangan kebanyakan orang di sekitarnya:
"Ia melihat bahwa alam itu sepenuhnya saling terhubung. Dan yang dilakukan manusia adalah mengambil kenyataan ini — kenyataan yang saling terhubung ini — lalu memecah-mecahnya menjadi bagian-bagian kecil lewat pikiran yang suka memilah-milah. Menciptakan utara dan selatan, memisahkan pohon dari semak, dari batu, dari tanaman, dari hewan. Lalu menempelkan label baik dan buruk, serangga berguna dan hama. Dan seterusnya."
Kebiasaan memecah-mecah secara mental ini — memberi nama, mengelompokkan, menilai — bukanlah cara menemukan kenyataan. Menurut Fukuoka, itu justru lapisan buatan yang kita tempelkan di atas kenyataan.
"Semua pemikiran dan pemilahan seperti itu tidak ada di dunia alam. Itu hanya ada di dunia pikiran manusia."
Lingkaran Masalah yang Tak Berujung
Dari cara pandang yang terpecah-pecah itulah muncul asumsi yang berbahaya: bahwa manusia bisa memperbaiki alam. Korn menjelaskan bagaimana Fukuoka menelusuri akar dari kekeliruan ini:
"Orang-orang entah bagaimana mendapat gagasan bahwa mereka benar-benar bisa memperbaiki alam. Jadi mereka mencoba ini dan itu, dengan keyakinan bahwa mereka bisa membuat hidup manusia lebih baik. Tapi karena pemahaman mereka yang terbatas, yang bisa mereka lakukan justru menghalangi dan mengacaukan segalanya. Efek samping pun muncul, konsekuensi yang tidak mereka duga. Lalu mereka menangani konsekuensi itu dengan cara berpikir yang sama — dan itu melahirkan masalah baru, satu per satu semakin membesar."
Inilah inti dari apa yang Fukuoka sebut sebagai mimpi buruk pertanian — dan, lebih jauh lagi, mimpi buruk peradaban modern. Kita tidak sedang maju. Kita sedang sibuk membereskan masalah-masalah yang kita buat sendiri, yang terus menumpuk.
"Kalau dipikir-pikir, hari ini hampir semua yang kita lakukan hanyalah menangani dampak-dampak yang tidak kita inginkan dari apa yang sudah kita lakukan di masa lalu."
Gagasan yang Tak Ada yang Mau Dengar
Fukuoka berusaha menyampaikan pemahamannya ini. Ia bicara kepada rekan-rekan kerjanya, kepada orang-orang di jalanan. Tidak ada yang mengerti.
"Mereka hidup sepenuhnya di dalam dunia pikiran manusia. Dan bagi mereka, apa yang ia katakan terdengar seperti ajakan untuk kembali ke zaman primitif."
Tapi Korn menegaskan — ini adalah kesalahpahaman yang masih terus terjadi hingga sekarang:
"Bagi Fukuoka, tentu saja ini bukan soal kembali ke belakang. Ini soal kenyataan. Ini hanyalah tempat di mana kita menemukan diri kita. Kita tidak tahu kenapa, bagaimana bisa sampai di sini — yang jelas, inilah yang ada."
Daripada terus berdebat soal gagasan, Fukuoka akhirnya mengambil langkah yang nyata. Ia pulang ke pertaniannya.
"Yang ia putuskan adalah kembali ke pertaniannya dan menerapkan pemahaman ini dalam praktik pertanian — dan dengan begitu, menunjukkan manfaatnya bagi manusia."
Tiga Jalan Sesat yang Kita Tempuh
Korn memetakan tiga cara yang saling berkaitan, di mana peradaban manusia telah jauh menyimpang dari tempatnya yang seharusnya di alam — semuanya berakar dari pemikiran Fukuoka.
1. Memisahkan Diri dari Alam Lewat Pikiran
"Salah satunya adalah proses di mana kita memisahkan diri dari alam. Saya rasa siapa pun yang hidup di dunia modern merasakan pemisahan itu — kita tahu ada jarak. Dan Fukuoka menunjukkan dengan tepat bagaimana pemisahan itu terjadi: lewat proses berpikir, pemilahan, dan nilai-nilai manusia. Semua itu tidak ada di alam. Jadi kita hidup di dunia yang berbeda."
2. Keyakinan bahwa Manusia Lebih Tinggi dari Segalanya
"Suatu ketika — dan tampaknya ini terjadi tepat ketika pertanian mulai berkembang, sekitar sepuluh atau dua belas ribu tahun lalu — orang-orang mulai beranggapan bahwa manusia berbeda dari spesies lain, bahwa kita lebih baik, lebih bernilai, dan bahwa dunia ini diberikan kepada kita untuk dimanfaatkan sesuka hati. Dan bahwa lewat kecerdasan dan ilmu pengetahuan, kita bisa memperbaiki segalanya untuk kepentingan manusia. Soal apa yang terjadi pada spesies lain? Tidak terlalu penting. Itu hanya kerugian sampingan."
3. Praktik Pertanian Itu Sendiri
"Cara ketiga kita menyimpang — yang juga berkaitan dengan pertanian — adalah praktik pertanian itu sendiri. Pembajakan tanah, penebangan hutan, irigasi, dan segala macam pengelolaan pertanian — semua itu tidak baik bagi lingkungan. Kita telah menguras kekayaan yang sebenarnya sudah diberikan kepada kita."
Pertanian Alami Bukan Soal Teknik — Ini Soal Cara Pandang
Inilah bagian yang paling sering disalahpahami dari pemikiran Fukuoka. Orang mendengar "pertanian alami" dan langsung terbayang metode, teknik, cara bertanam.
"Ia memang menyebutnya pertanian alami, tapi katakanlah itu adalah cara alami — cara melihat alam secara langsung. Orang-orang cenderung mengaitkan pertanian alami dengan tekniknya. Padahal bukan itu inti soalnya. Yang penting adalah cara pandangnya. Dan begitu kamu punya cara pandang itu, kamu masuk ke dalam alam dan berpartisipasi dari dalam — bukan sebagai orang luar yang sekadar berkunjung. Dari situ, kamu akan tahu sendiri apa yang harus dilakukan."
Jalan Pulang — dan Apa yang Harus Dilakukan
Situasinya memang berat, tapi Korn — lewat kacamata Fukuoka — tidak melihat ini sebagai jalan buntu. Kuncinya ada di sini: kalau cara berpikirnya yang diperbaiki, alam akan memulihkan dirinya sendiri:
"Kita memang punya banyak pekerjaan rumah. Kita harus membalikkan ketiga hal itu. Tapi kalau kita berhasil membalikkan dua yang pertama, perubahan pada lingkungan akan terjadi dengan sendirinya. Karena begitu kita punya cara berpikir yang benar dan hubungan yang benar dengan alam, kita akan secara naluriah tahu bagaimana cara hidup di dunia ini — bagaimana memberi makan dan melindungi diri kita sendiri — sekaligus memberi ruang bagi bentuk-bentuk kehidupan lain untuk bertahan dan memperkaya tanah. Kita akan tahu itu secara naluriah. Begitulah cara orang hidup selama ribuan tahun."
Soal Observasi — dan Mengapa Kata Itu Kurang Tepat
Bahkan kata observasi pun menyimpan masalah tersembunyi, menurut Korn. Dalam cara berpikir Barat, observasi mengandung arti adanya jarak antara yang mengamati dan yang diamati:
"Orang-orang Barat biasanya menyebutnya observasi. Tapi bagi saya, kata observasi itu sudah mengandung pemisahan — karena ada pengamat dan ada yang diamati."
Dalam pertanian alami, yang dimaksud bukan pengamatan pasif dari luar. Melainkan keterlibatan penuh dari dalam:
"Dari sudut pandang pertanian alami, yang dimaksud lebih seperti sebuah interaksi. Kamu tidak sedang mengamati — kamu benar-benar hidup di dalam alam dan mengenal tempatmu. Itulah yang kamu kejar saat mempraktikkan pertanian alami: bahwa kamu menjadi begitu akrab dan terhubung dengan tempat itu sehingga ia terasa seperti bagian dari dirimu sendiri."
Pulang ke Rumah — Keadaan Mu (無)
Lewat praktik interaksi yang terus-menerus ini, sesuatu yang lebih dalam perlahan-lahan akan muncul. Korn menggambarkannya lewat salah satu konsep inti Fukuoka:
"Kamu melakukan sesuatu, berinteraksi dengan alam, melakukan apa yang Fukuoka lakukan — mencoba sesuatu, melihat bagaimana alam merespons, lalu mengikuti ke sana. Dan lama-kelamaan kamu menjadi begitu selaras, dengan terus mengikuti jejak itu, hingga akhirnya kamu sampai ke rumah."
"Rumah adalah keadaan yang Fukuoka gambarkan dengan banyak cara — salah satunya sebagai mu, atau sebagai tidak-berbuat-apa-apa. Kamu sampai pada titik di mana kamu benar-benar terhubung, tepat di sana. Perasaannya tidak mudah digambarkan — tapi ia menyebutnya dengan penuh kegembiraan. Kadang ia menggambarkannya sebagai sebuah keadaan, seperti cinta yang meluap-luap."
Mu (無) dalam filsafat Jepang merujuk pada kekosongan atau ketiadaan — tapi bukan dalam arti yang suram atau nihil. Ini adalah lebur dan hilangnya batas palsu antara diri sendiri dan dunia. Tidak-berbuat-apa-apa pun bukan berarti malas atau pasif — ini artinya bertindak tanpa campur tangan ego, tanpa penilaian, tanpa dorongan untuk memperbaiki apa yang sebenarnya tidak perlu diperbaiki.
"Ia sungguh-sungguh merasa bahwa cinta punya peran yang besar dalam cara kita memahami dan menikmati dunia — karena cinta itu benar-benar ada di dasar dari segalanya."
Catatan Penutup
Apa yang ditawarkan Masanobu Fukuoka bukan buku panduan bertani. Ia mengangkat sebuah cermin — dan mengarahkannya ke wajah peradaban yang telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa semakin banyak berpikir, semakin banyak berbuat, semakin banyak mengendalikan, adalah jalan menuju kehidupan yang baik. Seluruh hidupnya adalah argumen yang tenang dan sabar bahwa justru sebaliknya yang benar: bahwa keheningan, keterhubungan, dan kerendahan hati di hadapan alam bukanlah naluri primitif yang perlu diatasi — melainkan tanah tempat kesejahteraan manusia yang sejati bisa tumbuh.
Mimpi buruk pertanian bukan hanya soal ladang. Ini soal cara kita melihat. Dan jalan keluarnya, seperti yang Fukuoka tunjukkan lewat hidupnya, bukan dimulai dari teknologi baru — melainkan dari pikiran yang baru. Atau mungkin, pikiran yang sangat, sangat tua.






Tetap pada Jalannya
Gagasan-gagasan Fukuoka tidak datang sekaligus. Ia meresap perlahan — seperti benih yang menemukan waktunya sendiri untuk tumbuh.
Kalau ada sesuatu dari tulisan ini yang menggerakkan sesuatu dalam dirimu, ikuti terus perjalanan ini. Kami berbagi renungan tentang alam, filsafat, dan cara berpikir yang tidak berusaha memperbaiki dunia — tapi melihatnya dengan lebih jernih.
Wawancara dilakukan oleh Larry Korn, murid lama Masanobu Fukuoka dan penerjemah "The One-Straw Revolution."
Ikuti kami di IG:@aadam_story dan bergabunglah dengan komunitas yang, dengan caranya yang kecil, sedang berusaha menemukan jalan pulang.
Karena seperti yang selalu Fukuoka ingatkan — jalannya tidak pernah hilang. Kita hanya lupa untuk melihat.
